Istri Pergi Jadi TKI dan Ayah Alami Gangguan Jiwa, Anak Ini Terpaksa Putus Sekolah

0
536

Bandung, Target Berita – Aiman Bestian (15), siswa kelas IX SMP Terpadu Cileunca, Kecamatan Bojong, Purwakarta, nekat mencegat Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi.

Sambil tergesa-gesa, dengan berani dia meminta Dedi mengunjungi rumahnya yang tak jauh dari lokasi acara Dedi melantik pengurus Golkar Purwakarta.

“Pak, ayo ke rumah saudara saya, Pak. Kasihan dia. Masih anak-anak tapi tidak boleh sekolah oleh orangtuanya,” ujar Aiman kepada Dedi, Selasa (27/9/2016).

Rencana Foto-foto Golkar pun batal seketika. Dedi bergegas ke rumah yang ditunjukkan Aiman. Di dalam rumah tersebut tinggal seorang ayah, Herman jayadiharja (35), dan anaknya, Angga Suherman (8).

“Kenapa anak bapak tidak sekolah? Besok harus mulai sekolah demi masa depan anak bapak!” tegas Dedi.

Dengan polos Herman menjawab, anaknya sudah memiliki ijazah, maka tidak perlu lagi menjalani pendidikan di sekolah.

“Anak saya sudah punya ijazah, Pak. Tuh, kemarin dibawa sama Pak Haji,” ungkap Herman.

Setelah diselidiki, ternyata Herman mengalami gangguan jiwa. Bahkan menurut keterangan kerabatnya, sudah 4 kali dia menjalani pengobatan di Rumah Sakit Jiwa Cisarua Bandung Barat namun belum mendapat hasil yang diharapkan.

Herman diketahui menderita gangguan jiwa sejak ditinggal bekerja istrinya menjadi tenaga kerja Wanita ke luar negeri selama empat tahun. Selama itu, sang istri tidak memberi kabar.

“Herman melamun terus istrinya tak jua memberikan kabar,” ujar saudara Herman, Mukti Suwarman.

Beberapa tahun lalu, istrinya pulang. Namun melihat kondisi suaminya, ia ingin bercerai dan kembali bekerja ke luar negeri.

“Saya lapor Pak Kades. Karena tidak mendapat izin suami, istrinya tak mengantongi izin dari desa. Makanya dia (istrinya) pergi dari Jawa menggunakan visa murah,” tuturnya.

Selama ini, kehidupan Herman dan Angga ditanggung oleh Mukti dan keluarga besar Herman. Pernah dirinya memyekolahkan Angga saat TK, namun tidak lama.

“Istri saya dianiaya karena menyekolahkan Angga. Akhirnya Angga tidak sekolah sampai sekarang,” tuturnya.

Angga, sambung Mukti, memiliki seorang adik. Karena kondisi Herman, anak itu pun dibawa ke keluarga istrinya. Dedi pun langsung memanggil dan meminta guru untuk mendatangi Angga setiap hari. Apakah Angga pergi ke sekolah, atau guru yang mendatangi Angga.

“Bu, tolong ini Angga diajari pelajaran sekolah. Kalau terus tidak diizinkan ayahnya untuk keluar rumah, Ibu datang saja setiap hari ke sini. Saya tambah honor Ibu Rp 1,5 juta per bulan,” imbuhnya.

Dedi pun turut memberikan bantuan uang Rp 3 Juta untuk Angga agar dapat membeli peralatan sekolah. Selain itu, Dedi menjanjikan domba agar Angga dan ayahnya bisa beternak dan menjadi modal usaha. (net)